Kamis, 03 Juli 2014
On 19.09 by cermin in Artikel No comments
Data
Encoding / Pengkodean Data
Dalam
menyalurkan data baik antar komputer yang sama pembuatannya maupun dengan
komputeer yang lain pembuatannya, data tersebut harus dimengerti oleh pihak
pengirim maupun penerima. Untuk mencapai hal itu, data harus diubah bentuknya
dalam bentuk khusus yaitu sandi untuk komunikasi data.
Coding
:
Penggambaran
dari satu set simbol menjadi set simbol yang lain.
Sistem
sandi yang umum dipakai :
a. ASCII
(American Standard Code for Information Interchange)
Paling
banyak digunakan, Merupakan sandi 7 bit, Terdapat 128 macam simbol yang dapat
diberi sandi ini, Untuk transmisi asinkron terdiri dari 10 atau 11 bit yaitu :
1 bit awal, 7 bit data, 1 bit paritas, 1 atau 2 bit akhir
b. Sandi
Baudot Code (CCITT Alfabet No. 2 / Telex Code)
Terdiri
dari 5 bit, Terdapat 32 macam simbol, Digunakan 2 sandi khusus sehingga semua
abjad dan angka dapat diberi sandi yaitu :
LETTERS
(11111)
FIGURES
(11011)
Tiap
karakter terdiri dari : 1 bit awal, 5 bit data dan 1,42 bit akhir
c. Sandi
4 atau 8
Sandi dari
IBM dengan kombinasi yang diperbolehkan adalah 4 buah “1” dan 4 buah “0”,
Terdapat 70 karakter yang dapat diberi sandi, Transmisi asinkron membutuhkan
bit, yaitu : 1 bit awal, 8 bit data dan
1 bit akhir.
d. BCD (Binary
Coded Decimal)
Sandi 6
bit, Terdapat 64 kombinasi sandi, Transmisi asinkron membutuhkan 9 bit, yaitu :
1 bit awal, 6 bit data, 1 bit paritas dan 1 bit akhir.
e.
EBCDIC (Extended Binary Coded Decimal Interchange Code)
Sandi 8 bit
untuk 256 karakter, Transmisi asinkron membutuhkan 11 bit, yaitu : 1 bit awal,
8 bit data, 1 bit paritas dan 1 bit akhir.
Pengelompokan
Karakter
Pada
komunikasi data informasi yang dipertukarkan terdiri dari 2 grup (baik ASCII
maupun EBCDIC), yaitu :
- karakter
data
- karakter
kendali, digunakan untuk mengendalikan transmisi data, bentuk (format data),
hubungan naluri data dan fungsi fisik terminal.
ASCII
Baudot
Code
BCD
KARAKTER
KENDALI
dibedakan
atas :
a.
Transmisi Control
Mengendalikan data pada saluran, terdiri atas :
•
SOH : Start Of Header
Digunakan sebagai karakter pertama yang menunjukkan bahwa karakteer
berikutnya adalah header
•
STX : Start of Text
Digunakan untuk mengakhiri header dan menunjukkan awal dari informasi /
text
•
ETX : End of Text
Digunakan untuk mengakhiri text
•
EOT : End Of Transmision
Untuk menyatakan bahwa transmisi dari text baik satu atau lebih telah
berakhir
•
ENQ : Enquiry
Untuk meminta agar remote station tanggapan
•
ACK : Acknowledge
Untuk memberikan tanggapan positif ke pengirim dari penerima
•
NAK : Negatif Akcnowkedge
Merupakan tanggapan negatif dari penerima ke pengirim
•
SYN : Synchronous
Digunakan untuk transmisi sinkron dalam menjaga atau memperoleh
sinkronisasi antar peralatan terminal
•
ETB : End of Transmision Block
Digunakan untuk menyatakan akhir dari blok data yang ditransmisikan, bila
data dipecah menjadi beberapa blok
•
DLE : Data Link Escape
Mengubah arti karakter berikutnya, digunakan untuk lebih mengendalikan
transmisi data.
Catatan : Header dapat berisi informasi tentang terminal, misalnya
alamat, prioritas, tanggal. Tidak semua sistem menggunakan ETX sehingga dalam
text harus ada informasi yang digunakan untuk merangkai berita.
b.
Format Effectors
Digunakan untuk mengendalikan tata letak fisik informasi pada printout /
tampilan layar
•
BS (Back Space), menyebabkan kursor / print head
mundur satu posisi.
•
HT (Horizontal Tabulation), maju ke posisi yang
telah ditentukan
•
LF (Line Feed), maju satu baris / spasi
•
VT (Vertical Tabulation, maju beberapa baris / spasi
•
FF (Form Feed), maju 1 halaman (halaman baru)
•
CR (Carriage Return), print head / kursor menuju ke
awal baris
c.
Device Control
Digunakan untuk mengendalikan peralatan tambahan dari terminal
d.
Information Separators
Digunakan untuk mengelompokkan data secara logis. Umumnya ditentukan :
•
US (Unit Separators), tiap unit informasi dipisahkan
oleh US
•
RS (Record Separator), tiap record terdiri atas
beberapa unit dan dipisahkan oleh RS
•
GS (Group Separator), beberapa record membentuk
suatu grup dan dipisahkan oleh GS
•
FS (File Separator),beberapa grup membentuk sebuah
file yang dipisahkan oleh FS
Komunikasi data menggunakan sinyal digital.Kelemahan : jarak tempuh
pendek akibat pengaruh redaman/derau yang terjadi pada media transmisi.
Pengiriman sinyal analog : jarak tempuh jauh.
Masalah : bagaimana menggunakan tehnik sinyal analog untuk pengiriman
sinyal digital. Sinyal digital mengenal dua keadaan (biner), maka digunakan
tehnik modulasi. Dengan tehnik
modulasi sinyal digital dapat diubah menjadi sinyal analog untuk dikirimkan dan setelah
diterima diubah kembali menjadi sinyal
digital.
Demodulasi
: tehnik mengubah digital menjadi
analog. Gelombang pembawa sinyal ini
disebut carrier dan berbentuk sinusoidal.
Terdapat 3 jenis modulasi untuk mengkonversi signal binary ke dalam bentuk
yang cocok melalui PSTN, yaitu amplitude, frequency and phase.
Teknik
modulasi merupakan dasar dari frequency domain :
Modulasi adalah proses encoding sumber data dalam suatu sinyal carrier
dengan frekuensi fc.
1. Amplitudo
Adalah besarnya (tinggi rendahnya) tegangan dari sinyal analog
2. Frequency
Adalah jumlah gelombang sinyal analog dalam waktu 1 detik
3. Phase
Adalah besarnya sudut dari sinyal analog pada saat tertentu
4
KOMBINASI MODULASI
- Data Digital, Sinyal Digital
Secara umum peralatan untuk mengkode data digital menjadi sinyal digital
adalah sedikit lebih komplek dan lebih mahal daripada peralatan modulator
digital ke analog
b.
Data Analog, Sinyal Digital
Yang diijinkan adalah menggunakan transmisi digital modern dan peralatan
sakelar
c.
Data Digital, Sinyal Analog
Beberapa media transmisi seperti serat optik / software yang hanya
merambatkan sinyal analog
d.
Data Analog, Sinyal Analog
Ditransmisikan sebagai baseband yang mudah dan murah. Penggunaan modulasi
untuk menggeser bandwidth dari sinyal baseband ke porsi lainnya dari spektrum
Data
Digital, Sinyal Digital
Elemen sinyal adalah tiap pulsa dari sinyal digital.Data binari / digital
ditransmisikan dengan mengkodekan bit-bit data ke dalam elemen-elemen sinyal.
Contoh : bit binari 0
untuk level tegangan rendah
bit
binari 1 untuk level tegangan tinggi
kecepatan data signalling dalam bps (bit per detik)
Sinyal
unipolar adalah semua elemen sinyal yang mempunyai tanda yang sama, yaitu positif
semua atau negatif semua. Sedangkan sinyal polar adalah elemen sinyal dimana
salah satu logic statenya diwakili oleh level tegangan positif dan yang lainnya
oleh level tegangan negatif.
Durasi = panjang bit (1/R) adalah jumlah waktu yang dibutuhkan oleh
transmiter untuk mengirimkan bit dengan kecepatan R
Kecepatan modulasi : kecepatan perubahan level sinyal dalam satuan baud
(besaran eleman sinyal perdetik)
v
Mark menunjukkan binari 1, dan
v
Space menunjukkan binari 0
Faktor kesuksesan penerima dalam mengartikan sinyal yang datang :
- Ratio signal to noise (S/N) : peningkatan S/N akan menurunkan bit error rate
- Kecepatan data / data rate : peningkatan data rate akan meningkatkan bit error rate (kecepatan error dari bit)
- Bandwidth : peningkatan bandwidth dapat meningkatkan data rate.
Hubungan ketiga faktor tersebut adalah :
- Kecepatan data bertambah, maka kecepatan errorpun bertambah, sehingga memungkinkan bit yang diterima error.
- Kenaikan S/N mengakibatkan kecepatan error berkurang
- Lebar bandwidth membesar yang diperbolehkan, kecepatan data akan bertambah
5 faktor
evaluasi (faktor-faktor yang mempengaruhi coding) :
- Spektrum sinyal / signal spektrum
Ketidakadaan komponen frekuensi tinggi berarti diperlukan bandwidth
sempit untuk transmisi.
2. Kemampuan sinkronisasi / clocking / signal synchronization capability
Untuk menghitung posisi start dan stop dari tiap posisi bit dengan
mekanisme sinkronisasi.
3. Kemampuan mendeteksi error / signal error detecting capability
Kemampuan error detection dapat diberikan secara sederhana dengan
pengkodean natural.
4. Tahan terhadap gangguan / signal interference and noise immunity
Digambarkan oleh kecepatan bit error.
5. Biaya dan kompleksitas / cost and complexity
Semakin tinggi kecepatan pensinyalan untuk memenuhi data rate yang ada,
semakin besar biayanya.
TEKNIK
Data Digital, Sinyal Digital
1. Non-Return to Zero / NRZ
Level tegangannya tetap selama interval bit tidak ada transisi.
a. NRZ-L (NRZ-Level)
Kode yang digunakan untuk menghasilkan dan menginterprestasikan data
digital oleh terminal pemproses data / peralatan lainnya dan jika kode yang
digunakan untuk transmisi berbeda. (tetap seperti data awal)
b. NRZ-M (NRZ-Mark)
Keuntungan transmisi dengan kode defferensial, dimana sinyal dikodekan
dengan membandingkan polaritas elemen sinyal yang berdekatan dari harga absolut
sinyal.
Keuntungannya : mudah dalam mendeteksi transisi noise
Bit = 1 jika
transisi pada awal pulsa clock
Bit = 0 jika tidak
ada transisi / perubahan
c. NRZ-S (NRZ-Space)
Sama dengan NRZ-M, tapi bedanya :
Bit = 1 jika tidak
ada transisi / perubahan
Bit = 0 jika transisi pada awal
pulsa clock
2.
Return to Zero / RZ
v
Untuk melihat perbedaan antara kecepatan data dan
kecepatan modulasi
v
Bit rate / kecepatan bit = 1/ tb, dan kecepatan
maksimal modulasi = 2 / tb
v
Ukuran minimal elemen signal adalah pulsa untuk
binari 1 besarnya ½ panjang interval bit
v
Kecepatan maksimum modulasi = 2 / tB
v
Tidak memberikan perbaikan terhadap teknik NRZ,
bandwidth sinyal besar
v
Bit = 1, pulsa berada pada awal ½ interval
v
Bit = 0, tidak ada pulsa
3. Delay
Modulation (Miller-Codding)
v
Ada 1 transisi per 2 waktu bit dan pernah lebih dari
1 transisi per bit
v
Bit = 1, transisi di tengah interval
v
Bit = 0, tidak ada transisi jika diikuti 1, dan
transisi pada akhir interval jika diikuti 0
4.
Biphase
Ø
Diharapkan untuk mengatasi kerugian teknik
pengkodean NRZ dan RZ
Ø
Sekurang-kurangnya memerlukan 1 transisi waktu bit
dan sebanyak-banyaknya 2 transisi, sehingga kecepatan maksimumnya 2 x NRZ
Ø
Keuntungannya adalah :
- Synchronization, karena transisi dapat diramalkan selama masing-masing waktu bit sehingga penerima dapat sinkron dalam transisi tersebut.
- No-DC-Component, tidak mempunyai komponen DC, sehingga menghasilkan keuntungan untuk mendeteksi error.
- Error Detection, ketidak adaan transisi diharapkan dapat dipakai untuk mendeteksi error.
Ø
Jenis-jenis Biphase :
- Biphase-L (biphase-level / manchester)
v
Bit = 1, transisi
dari high ke low di tengah interval
v
Bit = 0, transisi
dari low ke high di tengah interval
b. Biphase-M
v
Selalu terjadi transisi di awal interval
v
Bit = 1, transisi di tengah interval
v
Bit = 0, tidak ada transisi di tengah interval
c. Biphase-S
v
Selalu terjadi transisi di awal interval
v
Bit = 1, tidak ada transisi di tengah interval
v
Bit = 0, transisi di tengah interval
d. Differensial Manchester
v
Selalu terjadi transisi di tengah interval
v
Bit = 1, tidak ada transisi di awal interval
v
Bit = 0, transisi di awal interval
5.
Bipolar / Multilevel Binary
v
Menggunakan lebih dari 2 level sinyal
v
Mempunyai pusat bandwidth pada ½ kecepatan bit
v
Keuntungannya : tidak ada komponen DC / kemampuan sikronisasi
yang baik dan pemakaian bandwidth yang lebih kecil, dapat menampung bit
informasi lebih.
v
Kerugiannya : diperlukan receiver yang mampu
membedakan 3 level (+A, -A, 0) sehingga membutuhkan lebih dari 3 dB kekuatan
sinyal dibandingkan NRZ untuk probabilitas bit error yang sama.
v
Bit = 1, pulsa
pada tengah bit
interval awal dan mempunyai polaritas
v
Bit = 0, tidak ada pulsa
v
Memberikan beberapa error detection capability jika
1 harus mempunyai tanda berlawanan
Contoh
Data Digital, Sinyal Digital
v
Catatan : bandwidth paling kecil yaitu delay
modulation, dan terbesar yaitu biphase
Data
Digital, Sinyal Analog
®
Yang paling populer yaitu jaringan telepon umum.
Device yang dipakai adalah modem (modulator dan demodulator) yang mengubah data
digital ke sinyal analog (modulator) dan sebaliknya mengubah sinyal analog ke
data digital (demodulator).
®
Karena operasi modulasi meliputi 1atau lebih dari 3
sifat sinyal pembawa yaitu amplitudo, frequency, phase, dimana sinyal yang dihasilkan
menempati pusat bandwidth pada frequency pembawa
- ASK = Amplitudo Shift Keying
©
2 bilangan binary digambarkan oleh 2 perbedaan
amplitudo dari frequency pembawa
©
Dapat menerima perubahan perbesaran secara tiba-tiba
dan teknik modulasinya kurang efisien
©
Dalam jalur voice grade adalah digunakan hanya untuk
diatas 1200 bps
©
Data = 1, level high
s(t) = A cos (2pfct) + qc
©
Data = 0, level low
s(t) = 0
b.
FSK = Frequency Shift Keying
©
Harga 2 binary digambarkan oleh 2 perbedaan
frequency mendekati frequency pembawa
©
Sangat mudah membuat kesalahan dibanding ASK
©
Dalam jalur voice grade adalah digunakan hanya
sampai dengan 1200 bps
©
Dipakai untuk frequency tinggi pada jaringan locak
dengan kabel coaxial
©
Data = 1, frequency f1
s(t) = A cos (2pf1t) + qc
©
Data = 0, frequency f2
s(t) = A cos (2pf2t) + qc
c.
PSK = Phase Shift Keying
©
Harga 2 binary digambarkan oleh 2 perbedaan phase
dari frequency pembawa yang digeser untuk menggambarkan data
©
Data = 1, phase = 1800
s(t) = A cos (2pfct) + qc
©
Data = 0, phase = 00
s(t) = A cos (2pf0t)
. QPSK = Quardrature Phase Shift Keying
©
Metode yang lebih komplek dalam sistem pengiriman
©
Memakai pergeseran phase perkalian 900
©
Tiap urutan 2 bit dinyatakan dengan phase yang
berbeda
©
Tujuannya agar pengiriman data lebih cepat dan
penggunaan bandwidth medianya lebih efisien
©
Data 11, s(t) = A cos (2pfct) +
450
©
Data 10, s(t) = A cos (2pfct) + 1350
©
Data 00, s(t) = A cos (2pfct) + 2250
©
Data 01, s(t) = A cos (2pfct) + 3150
Secara umum kecepatan pengiriman data yang termodulasi (D) tergantung
pada kecepatan pengiriman data dan banyaknya data yang dikirim secara paralel,
sehingga :
D = R / l = R / log2
L
Dengan : D = kecepatan modulasi
R = kecepatan
data
L = jumlah
perbedaan elemen-elemen sinyal
I = jumlah bit per-elemen sinyal
Data
Analog, Sinyal Digital
Digitalisasi
adalah :
©
Proses
transmisi data analog ke dalam sinyal-sinyal data
©
Konversi
data analog ke dalam sinyal digital
Beberapa
kemungkinan yang dapat terjadi dalam proses digitalisasi adalah :
- Data digital dapat ditransmisikan menggunakan NRZ-L
- Data digital dapat di-encode sebagai sinyal digital memakai kode selain NRZ-L
- Data digital dapat dikonversikan ke dalam sinyal analog dengan menggunakan 1 dari teknik modulasi
Contoh :
Data suara
yang berupa data analog akan di-digitalisasi dan dikonversikan ke dalam sinyal
analog ASK, maka peralatan yang dipakai untuk konversi data analog ke dalam
bentuk digital dalam transmisi dan memperoleh kembali barisan data analog
digital diketahui sebagai CODEC (Coder – Decoder)
Teknik
CODEC (Coder and Decoder)
- PCM = Pulse Code Modulation
Berdasarkan
teori sampling, apabila sinyal f(t) di sampling pada interval waktu reguler dan
kecepatan tertingginya 2 kali atau lebih dari ketinggian frequency sinyal yang
mana sample berisikan seluruh informasi sinyal asli, maka fungsi f(t) dibentuk
kembali dari sample ini menggunakan low pass filter.
Sinyal
original diambil untuk bandlimited dengan bandwidth B, sample diambil pada rate
2B atau setiap 1/2B detik, yang digambarkan sebagai pulsa sempit yang
amplitudonya sebanding dengan harga sinyal original. Proses ini dinamakan PAM
(Pulse Amplitudo Modulation) yang merupakan langkah pertama dari PCM.
PCM = Pulse
Code Modulation
Teknik
CODEC (Coder and Decoder)
2. DM =
Delta Modulation
©
Data
analog fungsinya kurang lebih seperti tangga rumah yang bergerak keatas ke
bawah oleh 1 level quantizasi pada masing-masing waktu sampling
©
Sifat
terpenting dari fungsi tangga rumah / staircase function adalah binary. Pada
masing-masing waktu sampling fungsi gerakan keatas kebawah jumlahnya adalah
konstan, maka keluaran proses DM adalah single binary digit untuk masing-masing
sample. Pada pokoknya aliran bit dihasilkan dari pendekatan pengurangan
amplitudo sinyal analog.
©
Nilai
1 = dihasilkan jika fungsi tangga rumah bergerak keatas selama interval
berikutnya
©
Nilai
0 = dihasilkan kebalikannya
©
Sinyal
berubah 0,1,0,1 dipakai jika amplitudo konstan
DM =
Delta Modulation
Modulasi
adalah :
©
Proses
kombinasi sinyal masukan m(t) dan sinyal pembawa (carrier) pada frequency fc
untuk menghasilkan sinyal s(t) yang mempunyai bandwidth yang biasanya berpusat
pada fc.
Prinsip
teknik modulasi menggunakan data analog adalah :
- AM = Modulasi Amplitudo
Modulasi
ini menggunakan amplitudo sinyal analog untuk membedakan kedua keadaan sinyal
digital, dimana frequency dan phasenya tetap, amplitudo yang berubah.
Dengan cara
ini, maka keadaan ‘1’ (high) diwakili dengan tegangan yang lebih besar dari ‘0’
(low), misalkan ‘1’ = 5 V dan ‘0’ = 0 V.
AM adalah
modulasi yang paling mudah, tetapi mudah juga dipengaruhi oleh keadaan media
transmisinya. Variant AM yang populer untuk diketahui adalah SSB (Single
Side Band), keuntungannya adalah pengirim hanya memerlukan 1 side band dan
membersihkan side band lainnya, dan sinya pembawa. Dan DSBTC (Double
Sideband Transmitter Carrier) dimana
menyaring frekuensi carrier dan mengirimkan kedua sideband.
b. FM =
Modulasi Frequency
Modulasi
ini menggunakan sinyal analog untuk membedakan kedua keadaan sinyal digital,
dimana amplitudo dan phasenya tetap, frequency yang berubah. Kecepatan
transmisi mencapai 1200 bit persekon. Untuk transmisi data sistem yang umum
dipakai FSK
c. PM =
Modulasi Phase
Modulasi
ini menggunakan perbedaan sudut phase sinyal analog untuk membedakan kedua
keadaan sinyal digital, dimana frequency dan amplitudo tetap, phase yang
berubah.Cara ini paling baik, tapi paling sukar, biasanya dipergunakan untuk
pengiriman data dalam jumlah besar yang banyak dan kecepatan yang tinggi.
Bentuk PM yang paling sederhana adalah pergeseran sudut phassa 180 derajat
setiap penyaluran bit “0” dan tidak ada pergeseran sudut bila bit “1”
disalurkan.
MODEM
(Modulasi dan Demodulasi)
Dalam
komunikasi data diperlukan alat untuk mengubah sinyal digital dengan proses
modulasi dan menerima data yang dikirimkan pada komputer untuk diolah. Alat ini
disebut dengan modulator-demodulator (modem).
Modem
menerima pulsa biner dari komputer, terminal atau alat lain dan mengubahnya
menjadi sinyal analog yang dapat disalurkan melalui saluran komunikasi.
Hal penting
dalam pemakaian modem :
· Laju
transmisi data.
* kecepatan rendah ( sampai dengan 600 bps )
* kecepatan menengah ( 1200 s/d 2400 bps )
* kecepatan tinggi ( 4800 bps keatas )
· Mode
komunikasi.
* simplex
* half duplex
* full duplex
·
Sinkronisasi.
Untuk modem berkecepatan rendah dan menengah
digunakan transmisi asinkron sedangkan
untuk modem yang berkecepatan tinggi menggunakan transmisi sinkron. Sinkronisasi baik dengan cara asinkron
maupun sinkron perlu memperhatikan :
* Waktu yang
menentukan bilamana suatu
bit dari data diterima (sinkronisasi
bit)
* Bit yang mana dari suatu karakter
yang sudah diterima (sinkronisasi karakter)
· Tehnik
Modulasi.
3 tehnik
modulasi yaitu AM (QAM), FM (FSK) dan PM (PSK).Kecepatan rendah memakai metode
FSK.Kecepatan tinggi memakai metode PSK.
· Standar
Industri.
Standard yang digunakan secara internasional
dikeluarkan oleh CCITT (Comitee Consultative Internationale de Telegraphique
et Telephonique) antara lain :
* sampai dengan 300 bps CCITT V.21
* 600 - 1200 bps CCITT
V.23
* 200 bps CCITT
V.22
* 2400 bps CCITT V.26, V.26 bis
* 4800 bps CCITT V.27 bis
* 9600 bps CCITT V.29
Pertimbangan
tehnik dalam pemilihan modem :
- Kecepatan transmisi (transmision rate). Sekurang-kurangnya harus dapat melayani volume data yang biasa dikirimkan.
- Turn-around Time.Waktu yang diperlukan oleh modem untuk merubah fungsinya dari pengirim menjadi penerima atau sebaliknya berkisar antara 20 msec - 200 msec.
- Error Susceptibility (daya tahan terhadap error).Modulasi PM lebih baik daripada FM untuk kecepatan diatas 4800 bps. Saluran komunikasi harus dibuat sedemikian rupa sehingga error rate dapat kecil, proses ini disebut line conditioning.
- Realibility
- Cost (biaya). Harus sebanding dengan kecepatannya.
- Maintainability (perawatannya).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Cari aje!
Popular Posts
-
X.25 Salah satustandar protocol yang paling banyakdipergunakanadalah X.25, yang barudisetujuipadatahun 1976 telahmengalamibeberapa ...
0 komentar:
Posting Komentar