Kamis, 03 Juli 2014
On 19.10 by cermin in Artikel No comments
DETEKSI
DAN KOREKSI KESALAHAN
Selama
pengiriman informasi baik berupa sinyal digital maupun sinyal analog tersebut
mengalami perubahan.Media pengiriman informasi sangat terpengaruh oleh gangguan
cuaca maupun dari karakteristik media itu sendiri.Derau tidak dapat dihindari
tapi diperlukan usaha untuk mencegah, mendeteksi bahkan memperbaiki kesalahan
yang terjadi pada data yang dikirim sehingga data yang diterima dan diproses
adalah benar – benar data yang dikehendaki.Perlu teknik untuk melacak kesalahan
agar data yang salah tidak diproses lebih lanjut bahkan diperbaiki.
Cara
mencegah terjadinya kesalahan pada umumnya dilakukan dengan memperbaiki
peralatan pengiriman dan penerimaan data maupun media pengiriman datanya
sendiri.Deteksi error pada system telekomunikasi data menyangkut penggunaan
redundansi yaitu tambahan informasi yang tidak ada sangkut pautnya dengan isi
informasi yang dikirimkan.
Data
tambahan inilah yang menunjukan ada atau tidak adanya kesalahan pada data yang
dikirimkan.Data tambahan ini disebut sebagai parity yaitu penambahan satu atau beberapa “non information carrying
bit” sehingga penerima dapat melakukan perhitungan matematis untuk memeriksa
apakah data yang diterimanya benar.Tetapi informasi yang berlebih ini
menggunakan sebagian kapasitas saluran transmisi yang dapat digunakan untuk
data sebenarnya. Oleh karena itu teknik deteksi error merupakan kompromi antara
redundansi dan persentasi error
yang dideteksi. Makin banyak bit
tambahan ini makin baik proteksi terhadap kesalahan tapi makin rendah
throughput dari data yang berguna. Throughput adalah perbandingan antara data
yang berguna dengan data keseluruhan (termasuk bit tambahan untuk protesi
kesalahan)
TEKNIK
MENDETEKSI ERROR
Teknik
deteksi error menggunakan error-detecting-code, yaitu tambahan bit yang
ditambah oleh transmitter. Dihitung sebagai suatu fungsi dari transmisi bit-bit
lain. Pada receiver dilakukan perhitungan yang sama dan membandingkan kedua
hasil tersebut, dan bila tidak cocok maka berarti terjadi deteksi error. Dan
Apabila sebuah frame ditransmisikan ada 3 kemungkinan klas yang dapat
didefinisikan pada penerima, yaitu :
O
Klas
1 (P1) : Sebuah frame datang dengan tidak ada bit error (jadi
tidak berarti dalam mendeteksi error, karena nggak ada error!)
O
Klas
2 (P2) : Sebuah frame datang dengan 1 atau lebih bit error yang
tidak terdeteksi
O
Klas
3 (P3) : Sebuah frame datang dengan 1 atau lebih bit error yang
terdeteksi dan tidak ada bit error yang tidak terdeteksi. (nggak berarti
juga, semua error udah terdeteksi)
PENDETEKSIAN
KESALAHAN
Ada dua
pendekatan untuk deteksi kesalahan :
1.Forward
Error Control
Dimana setiap karakter yang ditransmisikan atau frame berisi
informasi tambahan (redundant) sehingga bila penerima tidak hanya dapat
mendeteksi dimana error terjadi, tetapi juga menjelaskan dimana aliran bit yang
diterima error.
2. Feedback (backward) Error Control
Dimana setiap karakter atau frame memilki informasi yang
cukup untuk memperbolehkan penerima mendeteksi bila menemukan kesalahan tetapi
tidak lokasinya. Sebuah transmisi kontro digunakan untuk meminta pengiriman
ulang, menyalin informasi yang dikirimkan
Feedback
error control dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
- Teknik yang digunakan untuk deteksi kesalahan.
- Kontrol algoritma yang telah disediakan untuk mengontrol transmisi ulang.
PENGONTROLAN
KESALAHAN
Pengkontrolan
kesalahan berkaitan dengan mekanisme untuk mendeteksi dan memperbaiki kesalahan
yang terjadi pada pentransmisian frame dengan kemungkinan adanya dua jenis
kesalahan, yakni:
- Hilangnya frame: Frame gagal mencapai sisi yang lain. Sebagai contoh, derau yang kuat bisa merusak frame sampai pada tingkat dimana receiver tidak menyadari bahwa frame sudah ditransmisikan.
- Kerusakan frame: Frame diakui telah tiba, namun beberapa bit mengalami kesalahan (sudah berubah selama transmisi).
METODE
DETEKSI KESALAHAN
1. Echo
Metode sederhana
dengan sistem interaktif.
Operator memasukkan data melalui terminal
dan mengirimkan ke komputer.
Komputer akan menampilkan kembali ke terminal, sehingga dapat memeriksa apakah
data yang dikirimkan dengan benar.
2. Error
Otomatis / Parity Check
Penambahan
parity bit untuk akhir masing-masing kata dalam frame. Tetapi problem dari
parity bit adalah impulse noise yang cukup panjang merusak lebih dari satu bit,
pada data rate yang tinggi.
• Jenis Parity Check :
• Even parity (paritas genap),
digunakan untuk transmisi asynchronous. Bit parity ditambahkan supaya banyaknya
‘1’ untuk tiap karakter / data adalah genap
• Odd parity (paritas ganjil),
digunakan untuk transmisi synchronous. Bit parity ditambahkan supaya banyaknya
‘1’ untuk tiap karakter / data adalah ganjil
3 DETEKSI KESALAHAN BIT PARITI
a. Vertical Redundancy Check / VRC
Setiap karakter
yang dikirimkan (7
bit) diberi 1 bit pariti.
Bit pariti ini diperiksa oleh penerima
untuk mengetahui apakah karakter yang
dikirim benar atau salah. Cara ini hanya dapat melacak 1 bit dan berguna
melacak kesalahan yang terjadi pada pengiriman berkecepatan menengah, karena kecepatan
tinggi lebih besar kemungkinan terjadi
kesalahan banyak bit.
Kekurangan
: bila ada 2 bit yang terganggu ia tidak dapat melacaknya karena paritinya akan
benar.
Contoh :
ASCII huruf
"A" adalah 41h
100 0001
ASCII 7 bit
1100
0001 ASCII dengan pariti ganjil
0100
0001 ASCII dengan pariti genap
Akibatnya
huruf "A" kode ASCII dalam Hex :
- 41 bilamana pariti genap
- A1
bilamana pariti ganjil
b. Longitudinal Redundancy Check / LRC
LRC
untuk data dikirim secara blok.
Cara ini seperti VRC hanya saja penambahan bit
pariti tidak saja pada akhir karakter tetapi juga pada akhir setiap blok karakter yang
dikirimkan. Untuk setiap bit dari seluruh blok karakter ditambahkan 1
bit pariti termasuk juga bit pariti dari masing-masing karakter. Tiap blok
mempunyai satu karakter khusus yang
disebut Block Check Character (BCC) yang dibentuk dari bit uji. dan
dibangkitkan dengan cara sebagai berikut :
"Tiap
bit BCC merupakan pariti dari semua bit
dari blok yang mempunyai nomor bit yang sama. Jadi bit 1 dari BCC merupakan pariti
genap dari semua bit 1 karakter yang ada pada blok tersebut, dan seterusnya"
Kerugian :
terjadi overhead akibat penambahan bit
pariti per 7 bit untuk karakter.
c. Cyclic Redundancy Check / CRC
Digunakan
pengiriman berkecepatan tinggi, sehingga
perlu rangkaian elektronik yang sukar. Cara CRC mengatasi masalah overhead dan
disebut pengujian berorientasi bit, karena dasar pemeriksaan kemungkinan
kesalahan adalah bit / karakter dan menggunakan rumus matematika khusus.
Realisasi
Generator CRC / Penguji
Data
dimasukkan kedalam register geser pada
berbagai titik melalui gerbang
XOR yang mempunyai hubungan
langsung dengan generator polynominal yaitu rumus matematika untuk membagi bit
data. Lebih baik dari VRC / LRC, 99% error dapat terdeteksi.
Contoh
hasil pada register geser 16 bit dengan gerbang XOR, dimana input pada bit 0,
5, 12 dan output pada bit 15, maka :
CRC-CCITTT = X16 + X12 + X5
+ 1
CRC-16 = X16 + X15 + X2
+ 1
CRC-12 = X12 + X11 + X3
+ X2 + 1
LRC = X8 + 1
RC-32 = X32 + X26 + X23
+ X22 + X16 + X12 + X11 + X10
+ X8
+ X7 + X5 + X4
+ X2 + X1 + 1
3. Framing Check
Dipakai
pada transmisi asinkron dengan adanya bit awal dan akhir.
Data berada diantara bit awal dan bit akhir. Dengan memeriksa kedua bit ini dapat diketahui apakah data dapat
diterima dengan baik atau tidak. Transmisi asinkron mempunyai bentuk bingkai
sesuai dengan ketentuan yang dipergunakan
Pendekatan
yang umum dipakai adalah data link layer memecah aliran bit menjadi frame-frame
diskrit dan menghitung checksum setiap framenya. Ketika sebuah frame tiba di
tujuan, checksum dihitung kembali. Bila hasil perhitungan ulang checksum
tersebut berbeda dengan yang terdapat pada frame, maka data link layer akan
mengetahui bahwa telah terjadi error dan segera akan mengambil langkah tertentu
sehubungan dengan adanya error tersebut (misalnya, membuang frame yang buruk
dan mengirimkan kembali laporan error).
FRAMING
CHECK
Salah satu
cara untuk melaksanakan pembuatan frame ini adalah dengan cara menyisipakn gap
waktu di antara dua buah frame, sangat mirip seperti spasi antara dua buah
katan dalam suatu teks. Akan tetapi, jaringan jarang memberikan jaminan tentang
pewaktuan. Karena itu, mungkin saja gap ini dibuang, atau diisi oleh gap
lainnya selama proses transmisi, karena sangat besar risikonya dalam menghitung
pewaktuan untuk menandai awal dan akhir frame, telah dibuat metode lainnya,
yaitu 4 buah metoda :
1. Karakter penghitung
2. Pemberian karakter awak dan akhir,
dengan pengisian karakter
3. Pemberian flag awal dan akhir,
dengan pengisian bit
4. Pelanggaran pengkodean physical
layer.
·
Metoda
framing pertama menggunakan sebuah field pada header untuk menspesifikasikan
jumlah karakter di dalam frame. Ketika data link layer pada mesin yang dituju
melihat karakter penghitung, maka data link layer akan mengetahui jumlah
karakter yang mengikutinya, dan kemudian juga akan mengetahui posisi ujung
frame-nya. Masalah yang dijumpai dalama
algoritma ini adalah bahwa hitungan dapat dikacaukan oleh error transmisi.
Misal bila hitungan karakter 5 frame menjadi 7, maka tempat yang dituju akan
tidak sinkron dan tidak dapat mengetahui awal frame berikutnya.
Bahkan bila cheksum tidak benar sehingga tempat
yang dituju mengetahui bahwa frame yang bersangkutan buruk, maka tidak mungkin
untuk menentukan awal frame berikutnya. Pengiriman kembali sebuah frame ke
sumber untuk meminta pengiriman ulangpun tidak
akan menolong, karena tempat yang dituju tidak mengetahui jumlah
karakter yang terlewat untuk mendapatkan awal transmisi. Untuk alasan ini,
metoda hitungan karakter ini sudah jarang digunakan lagi.
·
Metode
framing yang kedua mengatasi masalah resinkronisasi setelah terjadi suatu error
dengan membuat masing-masing frame diawali dengan sederetan karakter DLE STX
ASCII dan diakhiri dengan DLE ETX (DLE=Data Link Escape, STX=Start Of Text,
ETX=End Of Text). Dalam metoda ini, bila tempat yang dituju kehilangan track
batas-batas frame, maka yang perlu dilakukan adalah mencari karakter-karakter
DLE STX dan DLE ETX. Masalah serius yang terjadi pada metoda ini adalah ketika
data biner, seperti program object, atau bilangan floating point,
ditransmisikan. Karakter-karakter DLE STX dan DLE ETX yang terdapat pada data
mudah sekali menganggu framing. Satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah
dengan membuat data link pengirim menyisipkan sebuah karakter DLE ASCII tepat sebelum
karakter DLE "insidentil" pada data. Data link layer pada mesin
penerima membuang DLE sebelum data diberikan ke network layer. Teknik ini
disebut character stuffing (pengisian karakter). DLE-DLE pada data selalu
digandakan. Kerugian penting dalam memakai metoda framing ini sangat berkaitan
erat dengan karakter 8-bit secara umum dan kode karakter ASCII pada khususnya.
Dengan berkembangnya jaringan, kerugian dari melekatkan kode karakter dalam
mekanisma framing menjadi semakin jelas, sehingga suatu teknik baru perlu
dibuat untuk memungkinkan pemakaian karakter berukuran sembarang
·
Teknik
baru memungkinkan frame data berisi sembarang sejumlah bit dan mengijinkan kode
karakter dengan sembarang jumlah bit per karakter. Teknik ini bekerja seperti
berikut, setiap frame diawali dan diakhiri oleh pola bit khusus, 01111110 yang
disebut flag. Kapanpun data link layer pada pengirim menemukan lima buah flag
yang berurutan pada data, maka data link layer secara otomatis mengisikan
sebuah bit 0 ke aliran bit keluar. Pengisian bit ini analog dengan pengisian
karakter, dimana sebuah DLE diisikan ke aliran karakter keluar sebelum DLE pada
data. Ketika penerima melihat 5 buah bit 1 masuk yang berurutan, yang diikuti
oleh sebuah bit 0, maka penerima secara otomatis mengosongkan (menghapus) bit 0
tersebut. Seperti halnya pengisian karakter transparan sepenuhnya bagi network
layer pada kedua buah komputer, demikian pula halnya dengan pengisian bit. Bila
data pengguna berisi pola flag 01111110, maka flag ini akan ditransmisikan kembali
sebagai 011111010 tapi akan disimpan di memory penerima sebagai 01111110.
Dengan pengisian bit, maka batas antara dua frame dapat dikenal jelas oleh pola
flag. Jadi bila penerima mengalami kehilangan track frame tertentu, yang perlu
dilakukan adalah menyisir input deretan flag, karena flag tersebut hanya
mungkin terdapat pada batas frame saja dan tidak pernah berada pada data.
- Metode framing terakhir hanya bisa digunakan bagi jaringan yang encoding pada medium fisiknya mengandung beberapa redundansi (pengulangan). Misalnya, sebagian LAN melakukan encode bit 1 data dengan menggunakan 2 bit fisik. Umumnya, bit1 merupakan pasangan tinggi-rendah dan bit 0 adalah pasangan rendah-tinggi. Kombinasi pasangan tinggi-tinggi dan rendah-rendah tidak digunakan bagi data. Proses itu berarti bahwa setiap bit data memiliki transisi di tengah, yang memudahkan penerima untuk mencari batas bit. Manfaat kode fisik yang invalid merupakan bagian standard LAN 802.2.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Cari aje!
Popular Posts
-
X.25 Salah satustandar protocol yang paling banyakdipergunakanadalah X.25, yang barudisetujuipadatahun 1976 telahmengalamibeberapa ...
0 komentar:
Posting Komentar